mengatasi limbah plastik

I. PENDAHULUAN

Seiring dengan berkembangnya jaman terutama di negara kita Indonesia, tidak terpungkiri lagi masalah penggunaan plastic yang berlebihan. Hal ini yang menyebabkan masalah yang sedang dihadapin negara kita saat ini. Walaupun saat ini penggunaan plastic sudah di batasi namun prakteknya di Indonesia pengguaan plastic kian marak. Kita lihat saja berapa banyak plastic yang kita pakai dalam sebulan?  berdasarkan penelitian saya tentang sampah plastic, kira – kira satu kepala keluarga menggunakan sampah plastic minimal 1 kantong plastic besar. Bayangkan saja apabila sampah plastic ini terus bertambah dari tahun ke tahun. Berapa banyak sampah plastic yang harus di daur ulang? Memang mudah untuk mendaur ulang sampah plastic tapi bagaimana dengan dampaknya? Dampak tidak hanya merugikan bagi lingkungan tetapi juga merugikan diri kita sendiri.

Jadi bagaiman cara meminimalkan dampak dari sampah plastic ini? Atau bagaiman cara kita mencegah penggunaan sampah plastic ini? Saya akan mencoba membahasnya dalam tulisan ini.

II. LATAR BELAKANG

Nama plastik mewakili ribuan bahan yang berbeda sifat fisis, mekanis, dan kimia. Secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yakni plastik yang bersifat thermoplastic dan yang bersifat thermoset. Thermoplastic dapat dibentuk kembali dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Plastik yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam bentuk thermoplastic.

Data BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa volume perdagangan plastik impor Indonesia, terutama polipropilena (PP) pada tahun 1995 sebesar 136.122,7 ton sedangkan pada tahun 1999 sebesar 182.523,6 ton, sehingga dalam kurun waktu tersebut terjadi peningkatan sebesar 34,15%. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Sebagai konsekuensinya, peningkatan limbah plastikpun tidak terelakkan. Menurut Hartono (1998) komposisi sampah atau limbah plastik yang dibuang oleh setiap rumah tangga adalah 9,3% dari total sampah rumah tangga. Di Jabotabek rata-rata setiap pabrik menghasilkan satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah tersebut akan terus bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik, antara lain tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air, maupun tidak dapat berkarat, dan pada akhirnya akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan. (YBP, 1986).

III. PEMECAHAN MASALAH

Berdasarkan sumber yang saya dapat, saya menemukan berbagai cara untuk mengatasi masalah limbah plastic ini. Ternyata di negara kita ini, limbah plastic telah di manfaatkan untuk di daur ulang kembali. Di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kita yang berada di Indonesia,penggunaan bahan plastik bisa kita temukan di hampir seluruh aktivitas hidup kita. Padahal apabila kita sadar, kita mampu berbuat lebih untuk hal ini yaitu dengan menggunakan kembali (reuse) kantung plastik yang disimpan di rumah. Dengan demikian secara tidak langsung kita telah mengurangi limbah plastik yang dapat terbuang percuma setelah digunakan (reduce). Atau bahkan lebih bagus lagi jika kita dapat mendaur ulang plastik menjadi sesuatu yang lebih berguna (recycle). Bayangkan saja jika kita berbelanja makanan di warung tiga kali sehari berarti dalam satu bulan satu orang dapat menggunakan 90 kantung plastik yang seringkali dibuang begitu saja. Jika setengah penduduk Indonesia melakukan hal itu maka akan terkumpul 90×125 juta=11250 juta kantung plastik yang mencemari lingkungan. Berbeda jika kondisi berjalan sebaliknya yaitu dengan penghematan kita dapat menekan hingga nyaris 90% dari total sampah yang terbuang percuma.

Dalam pemprosesan atau daur ulang sampah plastik ada dua jenis :
1. Langsung dimanfaatkan menjadi barang punya fungsi lain
Contoh, botol plastik dibuat tempat sabun cair, pencuci lantai dsb, jadi kita hanya membeli isi ulangnya saja. Atau kita bisa menggunakan kembali katung plastic belanjaan kita.
2. Memprosesnya menjadi bentuk lain,
ini yang agak rumit karena prosesnya panjang. Secara garis besarnya saja, plastik harus dipisahkan berdasarkan jenisnya, PET (seperti botol air mineral) tidak dicampur dengan PP (gelas air mineral) dan sebagainya. Untuk memudahkan pengenalan langsung biasanya ditanya saja pada pengumpul sampah plastik dia jual jenis apa. Lalu plastik yang sudah disortir dibersihkan dengan air dan sabun supaya tidak ada kotoran seperti pasir, lumpur dsb, lalu dikeringkan dengan cara dijemur, kemudian harus dihancurkan dengan mesin giling khusus plastik, dari disini akan dihasilkan serpihan plastik yang namanya “flakes” makanya dikenal dengan istilah PET bottle flakes (seperti cereal).Dari flakes itu lalu dicuci sama cairan kimia, atau yang paling bagus pakai mesin cuci yang pakai air panas. Flakes itu merupakan bahan baku biji plastik atau pelet plastik, kemudian panaskan sampai mencair lalu dicetak seperti lidi panjang an dipotong kecil-kecil sesuai dengan permintaan, yang paling bagus tidak perlu dipotong karena bentuknya seperti pupuk urea/ bulat-bulat.

Tapi biasanya kalau daur ulang adalah pelet yang hasil potongan. Saat membuat adonan plastik biasanya diberi polymer (unsur kimia yang dapat merekatkan, melenturkan plastik agar tidak mudah patah atau pecah saat nanti dibentuk), kemudian diberi warna sesuai dengan permintaan, bisa hitam, hijau atau merah dsb. Untuk proses akhir biasanya bentuk pelet tadi dimasukkan kedalam mensin yang namanya “moulding”, pelet tersebut dilelehkan lagi dan dibentuk sesuai dengan keinginan, bisa jadi ember, jerigen, gayung, tas plastik dan banyak lagi.

Selain mendaur ulang sampah plastic, seorang ilmuan Jepang menemukan suatu metode baru untuk mengatasi limbah plastic yaitu dengan mengubah sampah plastic menjadi minyak mentah skala rumahan. Teknologi ini baru di kembangkan di negara Jepang dan saya berharap negara kita bisa mencontohnya. Mesin ini bekerja dengan cara sederhana. Sampah plastik dipanaskan dan kemudian uap yang dihasilkannya ditangkap di dalam suatu tempat dengan sistem pipa-pipa dan air. Kemudian proses kondensasi akan mengubah uap plastik menjadi minyak mentah. Jika diinginkan, maka minyak mentah tersebut bisa diubah menjadi bensin, tetapi tentunya dengan penambahan mesin baru untuk penyulingannya. Mesin yang digunakan untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan pembentuknya semula, minyak mentah. Sebanyak 0,9 kilogram plastik bisa diubah menjadi 1 liter minyak.

Energi listrik yang dibutuhkan hanya sebesar 1 kiloWatt jam untuk proses tersebut. Metode untuk mengubah plastik menjadi minyak kembali bukanlah hal baru. Salah satunya adalah sebuah pembangkit listrik yang berada tidak jauh dari Washington, D.C, Amerika Serikat. Bedanya, perusahaan di Washington itu membuat mesin dengan fungsi yang sama tetapi untuk skala komunal. Meski teknologi baru tersebut menarik untuk mengatasi permasalah sampah di rumah tinggal, tetapi harganya yang oleh Blest Corporation dipatok cukup mahal –sekitar 10.000 US dolar atau Rp. 94,5 juta– kemungkinan akan menjadi pertimbangan calon pembeli jika digunakan untuk rumah tinggal. Mesin tersebut lebih tepat sebagai mesin pengubah sampah plastik yang sudah ada, dan semoga bukan seolah memberi lampu hijau bagi produsen plastik untuk memperbanyak produksi plastik baru.

mungkin kita bisa mengkombinasikan sampah – sampah plastik ini dengan berbagai cara yang saya sudah paparkan di atas. mungkin teknologi yang di temukan oleh ilmuwan Jepang ini bisa kita contoh. seingat saya teknologi tersebut dapat kita buat sendiri seperti mesin filtrasi suatu obat yang di laboraturium hanya saja kita kembangkan kembali menjadi lebih besar. selain itu sampah – sampah plastik yang masih bisa dipakai, dapat kita manfaatkan kembali menjadi barang yang bernilai jual tinggi. sehingga masalah yang di hadapi oleh negara kita saat ini bisa terselesaikan.

IV. Kesimpulan dan Saran

Jadi menurut saya, seiring dengan berkembangnya jaman, kita bisa mengatasi masalah limbah plastic ini apabila masing – masing individu mau peduli dengan lingkungan kita. Karena apa yang di permasalahkan negara saat ini adalah masalah kita juga. Maka dari itu kita harus menyelesaikan masalah tersebut daripada generasi selanjutnya yang menanggung resiko dari apa yang telah kita perbuat.

Daftar pustaka :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s